EDUDATA : Pendidikan, Data, dan Statistika
https://journal.nacreva.com/index.php/edudata
<p><img src="https://journal.nacreva.com/public/site/images/fuatasnawi/cover-jurnal.jpg" alt="" width="1901" height="2689" /></p>CV Nature Creative Innovationen-USEDUDATA : Pendidikan, Data, dan StatistikaMETODE PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI SD MUHAMMADIYAH BILLINGUAL FULL DAY AL-ADZKIYA KABUPATEN WONOSOBO
https://journal.nacreva.com/index.php/edudata/article/view/235
<p class="Pythagoras5AbstractBodyIndo"><span lang="IN">Pembelajaran Bahasa Arab membutuhkan metode yang tepat agar empat keterampilan berbahasa—istima’, kalam, qira’ah, dan kitabah—dapat dikuasai siswa secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode IMLA dalam pembelajaran Bahasa Arab di SD Muhammadiyah Bilingual Full Day (MBF) Al-Adzkiya serta mengevaluasi hasil implementasinya terhadap kemampuan siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan sumber data primer melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di lingkungan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode IMLA telah diterapkan dengan baik melalui perencanaan pembelajaran yang disusun guru sesuai tujuan, materi, metode, serta karakteristik peserta didik. Guru juga terampil dalam mengimplementasikan IMLA, sehingga pembelajaran berlangsung lebih terstruktur dan membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis dan memahami Bahasa Arab.</span></p>Fahmi IhsaniNoor AzizAsep Sunarko
Copyright (c) 2026 EDUDATA : Pendidikan, Data, dan Statistika
2026-06-302026-06-301116KONSTRUKSI SIKAP MODERASI BERAGAMA MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
https://journal.nacreva.com/index.php/edudata/article/view/236
<p class="Pythagoras5AbstractBodyIndo"><span lang="IN">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Al-Banna mengonstruksi dan menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama kepada peserta didik dalam konteks masyarakat multikultural Bali. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif studi kasus, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI memaknai moderasi beragama sebagai sikap hidup nyata dalam interaksi sosial. Transmisi nilai dilakukan melalui pendekatan tematik-kontekstual yang memadukan teks keagamaan dengan realitas sosial, serta didukung oleh relasi guru-murid yang berbasis kepercayaan dan keteladanan. Faktor pendukung utama meliputi kurikulum adaptif dan lingkungan inklusif, sedangkan faktor penghambat melibatkan resistensi orang tua dan pengaruh konten ekstremis di media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan konstruksi sikap moderasi beragama pada peserta didik sangat bergantung pada kompetensi pedagogis guru, kualitas relasi sosial dalam ekosistem sekolah, serta dukungan lingkungan yang kondusif.</span></p>Nabieh Shulhan Ahmad Dhanny Agustya RachmawanAnwas MahfudhEriko Yahya Maulana
Copyright (c) 2026 EDUDATA : Pendidikan, Data, dan Statistika
2026-06-302026-06-3011712MAKNA TOLERANSI BERAGAMA MENURUT SISWA PADA LINGKUNGAN SEKOLAH MULTIKULTURAL
https://journal.nacreva.com/index.php/edudata/article/view/237
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna toleransi beragama menurut persepsi siswa di lingkungan sekolah multikultural. Toleransi beragama merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan bermasyarakat yang beragam, terutama di Indonesia sebagai negara dengan tingkat keberagaman agama dan budaya yang tinggi. Sekolah multikultural menjadi ruang strategis bagi siswa untuk memaknai, memahami, dan mengamalkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan observasi partisipan terhadap siswa SMA di salah satu sekolah multikultural di Jakarta. Informan dipilih secara purposive sampling dengan mempertimbangkan latar belakang agama yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memaknai toleransi beragama tidak sekadar sebagai “sikap saling menghargai” atau “tidak mengganggu keyakinan orang lain”, melainkan sebagai sikap aktif yang mencakup pemahaman mendalam terhadap perbedaan, empati antar umat beragama, serta kerja sama dalam kegiatan sekolah yang bersifat lintas agama. Toleransi bagi siswa juga bermakna sebagai bentuk penghargaan terhadap hak kebebasan beragama serta upaya mencegah prasangka dan diskriminasi. Faktor pendukung toleransi meliputi pendidikan agama yang inklusif, teladan guru, dan kegiatan ekstrakurikuler bersama, sementara tantangan utama berasal dari pengaruh media sosial dan stereotip keluarga.</p>Hilyan NafisaNur BaitiRefiansyah MafthuhulAhmad Divka
Copyright (c) 2026 EDUDATA : Pendidikan, Data, dan Statistika
2026-06-302026-06-30111317EKSPLORASI MINAT DAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI YAYASAN AL BANNA BALI
https://journal.nacreva.com/index.php/edudata/article/view/238
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Arab di Yayasan Al Banna Bali serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses pembelajaran. Penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara siswa SMA Al Banna Bali sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh gambaran mengenai pengalaman belajar siswa. Hasil penelitian menunujukan bahwa siswa memiliki minat yang cukup baik terhadap pembelajaaran Bahasa Arab karena dianggp bermanfaat, menantang, dan dapat membantu memahami Al-Qur’an. Metode pembelajaran yang interaktif, penggunaan teks percakapan, permainan edukatif, serta pemberian latihan secara rutin menjadi faktor yang meningkatkan motivasi belajar siswa. Materi percakapan lebih disukai dibandingkan nahwu dan Sharaf yang dianggap sulit. Adapun faktor penghambat motivasi belajar meliputi kesulitan menghafal kosakata, memahami bacaan arab tanpa harakat, serta minimnya penggunaan Bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, faktor pendukung motivasi belajar antara lain adanya tugas praktik, lingkungan belajar yang aktif, dorongan untuk meningkatka prestasi, dan pengaruh positif, dari teman sebaya. Dengan demikian, pembelajaran Bahas Arab yang variatifm interaktif, dan memberikan lebih banyak kesempatan praktik dapat meningkatkan minat serta motivasi siswa dalam mempelajari Bahasa Arab.</p>FatimatuzzahraJinani FirdausyiahMuhammad Adib Khusaini Masruri AftonMuhammad Zuni Rahman
Copyright (c) 2026 EDUDATA : Pendidikan, Data, dan Statistika
2026-06-302026-06-30111821STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SOLAT ZUHUR BERJAMAAH DI SMP NEGERI 1 PANDANARUM
https://journal.nacreva.com/index.php/edudata/article/view/240
<p>Penelitian ini membahas tentang strategi guru pendidikan agama islam dalam meningkatkan kedisiplinan solat zuhur berjamaah di SMP Negeri 1 Pandanarum. Tujuan penelitian meliputi: 1) Untuk mengetahui strategi guru Pendidikan agama islam dalam meningkatkan kedisiplinan solat zuhur berjamaah, 2) Untuk mengetahui pelaksanaan guru Pendidikan agama islam dalam meningkatkan kedisiplinan solat zuhur berjamaah, 3)Untuk mengetahui faktor yang mendukung dan menghambat strategi guru Pendidikan agama islam dalam meningkatkan kedisiplinan solat zuhur berjamaah. Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek pada penelitian ini yaitu Kepala Sekolah, guru Pendidikan Agama Islam dan peserta didik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis model interaktif (Miles dan Huberman) antara lain reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa; 1) strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan salat zuhur berjamaah dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan, pemberian nasihat dan motivasi, pembacaan Asmaul Husna, serta pengawasan terhadap pelaksanaan salat berjamaah; (2) pelaksanaan strategi tersebut dilakukan melalui penjadwalan salat zuhur berjamaah dari hari Senin sampai Kamis, penerapan tata tertib dan sistem absensi, koordinasi dan kerja sama antara guru Pendidikan Agama Islam dengan pihak sekolah, serta pemberian sanksi yang bersifat mendidik bagi peserta didik yang tidak mengikuti salat berjamaah tanpa alasan yang jelas; dan (3) faktor pendukung meliputi dukungan kepala sekolah, kerja sama antar guru, program pembiasaan keagamaan, serta sarana dan prasarana yang memadai, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan fasilitas tempat wudhu, kurangnya kesadaran sebagian peserta didik, dan pengaruh teman sebaya.</p>Dani RianaAsep SunarkoFatiatun
Copyright (c) 2026 EDUDATA : Pendidikan, Data, dan Statistika
2026-06-302026-06-30112232